Kisah Pilu Guru Honorer, Mengabdi 15 Tahun dengan Gaji Rp. 200 Ribu. -->

Advertisement

Kisah Pilu Guru Honorer, Mengabdi 15 Tahun dengan Gaji Rp. 200 Ribu.

September 7, 2020


guru-berbagi.site - Seorang guru honorer yang bertugas di Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulteng mengabdi sejak tahun 2005 dengan gaji Rp200 ribu per bulan. Selvianti namanya, salah satu dari sekian banyak abdi Negara yang diabaikan Pemerintah.

Selvianti mengajar di SDN 1 Desa Bangga, meski digaji hanya Rp200 ribu per bulan dirinya tetap tabah dan bersemangat tiada lelah. Bahkan gaji itu tidak diterima tiap bulan tetapi setiap tiga bulan sekali.

“Gaji saya terima tiap triwulan (tiga bulan) sekali,” kata Selvianti, saat dijumpai di Desa Bangga Minggu 6 September 2020.

Guru yang bergelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) ini tak pernah mengeluh sama sekali dengan profesi mulia yang dia geluti tersebut.

“Profesi yang mulia, biar Allah yang membalas kelak. Untuk bekal di sana nanti,” katanya.

Dengan nilai gaji yang jauh dari cukup untuk menghidupi keluarganya, perempuan kelahiran 1978 itu tidak pernah putus harapan untuk selalu ikut terlibat dalam mencerdaskan generasi bangsa.



Untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dengan dua anaknya, Selvi juga berjualan baju di media sosial. Menurutnya, omzet dari jualan hanya sekitar Rp.30 ribu satu prodak yang terjual.

“Janji 2018 mau diangkat (jadi Pegawai Negeri Sipil), sampai sekarang tidak ada juga. Agak kecewa sih dengan presiden sekarang yang tidak memperhatikan nasib guru honorer,” ujarnya pelan.

Guuru alumni Institut Agama Islam Negri (IAIN) Kota Palu itu tak kuasa menahan air mata, meratapi nasibnya sebagai guru honorer yang terkesan kurang diperhatikan oleh pemerintah pusat.

“Seakan terkucil dari perhatian pemerintah nasib kami. InsyaAllah presiden ke depan bisa memperhatikan nasib kami selanjutnya,” ujarnya dengan meneteskan air mata.

“Jiwa guru, jiwa mengajar saya tinggi, tidak digaji pun saya tetap bertahan menjalankan tugas saya mencerdaskan umat,” katanya lagi.

Pada tahun 2014, ia dan dua temannya di SDN 1 Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi pernah ikut tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

“Teman saya lulus karena dia ada orang dalam yang dikenal, saya tidak lulus, saya selalu merasa bersyukur atas nikmat dan rahmat Allah SWT. Mungkin belum rezeki,” katanya.

Selvi mengenang saat pertama kali mengabdi sebagai guru honorer di SDN 1 Bangga. Usai menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), ia mulai mengajar di SDN 1 Bangga sejak 1 Januari 2005. 

Agar bekal pengetahuan mendidik siswa bisa semakin banyak, ia melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan Ahli Muda Agama (AMD) sambil mengajar di sekolah itu. 

“Kemudian setelah itu saya masuk daftar kuliah S1 dan tahun 2012 saya diwisuda (sebagai) Sarjana Pendidikan Islam,” ujarnya.

Ia juga mengenang saat masa kuliah sambil mengajar. Meski harus fokus di perkuliahan,  dia juga tetap aktif setiap hari mengajar di SDN 1 Bangga.

“Pagi mengajar sore masuk kampus, kadang berangkat dari Bangga ke Palu yang berjarak tempuh 40 kilometer demi pengabdian saya dalam mengajar anak didik,” katanya.

Selama menempuh kuliah, Selvi mengaku dibiayai oleh ayahnya yang hanya kerja serabutan. Jika hanya berharap dari honor mengajar, tidak akan mencukupi biaya kuliahnya itu.

“Ibu sudah meninggal, tinggal papa yang membiayai saya kuliah, kadang juga minta uang sama kakak saya yang sudah PNS untuk biaya kuliah,” tutupnya.

Kini dia memutuskan untuk cuti sementara karena SDN 1 Desa Bangga yang dulu berdiri gagak kini telah dihantam banjir sehingga banyak warga mengungsi ke luar desa itu.




Penulis/ Editor : Fitria / Anang
Sumber             : iNsulteng