Miris, Karena Pandemi Berdampak Pada Miliaran Anak Usia Sekolah dan Pembangunan Negara Beberapa Dekade Mendatang. -->

Advertisement

Miris, Karena Pandemi Berdampak Pada Miliaran Anak Usia Sekolah dan Pembangunan Negara Beberapa Dekade Mendatang.

August 12, 2020

Ilustrasi anak-anak (getty images/christopher futcher)

guru-berbagi.site - Dampak pandemi menyebabkan gangguan pendidikan terbesar dalam sejarah saat ini. Lebih dari satu miliar anak-anak di dunia tidak bisa masuk sekolah. Sementara 40 juta anak-anak ketinggalan pendidikan di masa-masa penting prasekolah. 

Kondisi ini membuat PBB angkat bicara, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, mengatakan sekolah di 160 negara terpaksa harus ditutup. 

"Ini bencana generasi yang dapat menyia-nyiakan potensi manusia yang tak terhitung, merusak kemajuan pendidikan selama puluhan tahun dan memperburuk ketidaksetaraan yang mengakar," kaat Guterres seperti yang dikutip dari Time (12/8/2020). 

IKUTI KAMI DI FACEBOOK :

"Bahkan sebelum pandemi, dunia sudah menghadapi krisis pembelajaran karena lebih dari 250 juta anak putus sekolah," tambahnya.  Menurut Guterres, seperempat anak sekolah menengah di negara berkembang hanya lulus sekolah dasar. 

PBB juga mengatakan, sesuai hasil penelitian global badan pendidikan PBB UNESCO dan organisasi mitra di 180 negara, sekitar 23,8 juta anak dan remaja berisiko putus sekolah atau tidak memiliki akses ke pendidikan tahun depan karena dampak ekonomi pandemi.

“Kami berada pada momen yang menentukan bagi anak-anak dan remaja di dunia,” kata Guterres. 

“Keputusan yang diambil pemerintah saat ini akan berdampak jangka panjang pada ratusan juta anak dan pada prospek pembangunan negara selama beberapa dekade mendatang,” tambahnya. 

Dari Kondisi ini juga, Asisten Direktur Jenderal Pendidikan UNESCO, Stefania Giannini menekankan bahwa sekolah tidak hanya untuk belajar tetapi memberikan perlindungan sosial dan gizi, terutama bagi anak yang rentan. Seperti di lansir guru-berbgai.site dari times.

"Krisis virus corona telah memperkuat ketidak setaraan digital, sosial dan gender," kata Giannini. 

Menurutnya, anak perempuan, pengungsi, penyandang cacat, anak terlantar, dan anak di daerah pedesaan menjadi yang paling rentan. Mereka hanya akan memiliki kesempatan kecil untuk melanjutkan belajar mereka.

Demikian Yang dapat di sampaikan terkait Berita dan Informasi. Kami Akan senantiasa Menyampaikan Berita dan Informasi Terupdate dari berbagai sumber terpercaya. Terima kasih atas Kunjungannya dan Semoga Memberikan Informasi yang bermanfaat.


Penulis dan Editor : Anang
Sumber                  : majalah Times