Inspiratif, Siswa di Sekolah Ini Bayar SPP Pakai Sampah. -->

Advertisement

Inspiratif, Siswa di Sekolah Ini Bayar SPP Pakai Sampah.

August 28, 2020

Siswa - Siswi Sekolah Berbayar Sampah - Foto : Kollase

guru-berbagi.site - Pendidikan adalah hak semua anak. Pola pikir itu terpatri di dalam benak Indra Darmawan (48), pria yang dijuluki 'Sarjana Pemulung' itu tergerak untuk membuka sekolah bagi anak-anak di pinggiran Sungai Citarum. Uniknya, biaya sekolah di sini hanya dibayar dengan sampah.

Bermula pada 2010 lalu, lulusan jurusan Matematika Unpad itu awalnya memberdayakan para pemulung agar lebih berdaya di pinggiran Citarum. Seiring berjalannya waktu, ia menyadari pemberdayaan ekonomi saja tidak cukup untuk membuat perubahan signifikan.

Warisan profesi pemulung dari orang tua ke anak pun masih marak terjadi. Fenomena itulah salah satu hal yang mestinya harus diubah, yakni melalui pendidikan.

"Ketika pemulung dari sisi ekonomi menanjak, punya televisi, televisi keresek istilahnya karena dibeli dari hasil menjual keresek, ada kekhawatiran anak-anak ketika beranjak ke SMP, ada beberapa kasus anak-anak dari sisi kenakalan remajanya cukup mengkhawatirkan. Dari yang tidak merokok, jadi merokok, asalnya baik-baik saja, tapi karena pergaulannya menjadi berubah," ujar Indra, Kamis 20 Agustus 2020.

Pada 2014, Indra mendirikan taman bacaan dan sekolah untuk tingkat kanak-kanak (TK) yang dinamainya Sekolah Alam Tunas Inspiratif yang berlokasi di Babakan Cianjur, Desa Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sekolah itu ia buat dengan konsep berbayar dengan sampah yang dikumpulkan setiap hari Kamis. Tiap anak diwajibkan membayar 'SPP' dengan sampah ekonomis seberat satu kilogram perminggunya.

"Dan ternyata ada juga anak dari orang tua yang mampu secara ekonomi juga bersekolah di sini, mereka tertarik karena kurikulum alam yang kita lakukan. Jadi bagi yang mampu ini, selain Kamis membawa sampah juga ada infak bayar SPP untuk subsidi silang bagi anak-anak yang kurang mampu," ucapnya.

Tiga tahun berselang, akhirnya Indra membuat sekolah berbayar sampah tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Siswanya rata-rata merupakan pemulung, anak yatim piatu, anak korban broken home yang tak mungkin melanjutkan pendidikan karena ekonomi dan anak-anak korban perundungan.

Terkait kurikulum yang diajarkan, setiap anak diwajibkan untuk menghafalkan Alquran (hafiz). Selain itu, para pengajar yang rata-rata relawan, akan mengajar di hutan komunitas yang berlokasi di pinggir Citarum.

"Eddy Cobain akan mengajarkan sastra kepada anak-anak, saya sendiri mengajarkan matematika dengan contoh langsung di alam. Kemudian ada pak Lukman yang mengajarkan pemrograman dan istri saya mengajarkan bahasa Inggris," tutur Ketua Bening Saguling Foundation itu.

Selain itu, Indra juga mengajarkan anak-anak didiknya keterampilan untuk berwirausaha lewat program one week one products. Tak hanya soal produksi, anak-anak itu dibekali pengetahuan soal pemasaran.

"Kita latih juga mereka untuk mandiri lewat program one week one products, jadi setiap anak kita bekali dengan keterampilan untuk membuat produk setiap minggunya. Seperti membuat sandal, tas dari eceng gondok, water treatment dari sampah plastik nanti yayasan yang membeli," katanya.

"Mindset yang kita bangun, anak-anak itu bisa mandiri. Jadi setelah lulus bukan mencari kerja, tapi membuat lapangan kerja, jadi entrepreneur, anak-anak juga kita ajarkan membuat film," tutur Indra menambahkan.

Tuai Hasil Positif

Indra meyakini setiap anak memiliki talenta dan dari latar belakangnya yang berbeda-beda, seperti anak binaannya yang menjadi korban perundungan atau korban pertikaian orang tua. Pihaknya pun melakukan pendekatan personal yang menyentuh relung jiwa anak-anak tersebut.

"Perubahannya sangat berbeda saat mereka sekolah d sini, seperti Maya yang awalnya pendiam dan kurang percaya diri, Siti yang pendiam juga dan bajunya kotor, sekarang jadi anak yang lebih percaya diri dan berani berpidato di depan. Berani membaca puisi, dan itu menjadi kebanggaan bagi saya. Kemudian ada Adit dan Noval, yang otak kirinya luar biasa, hafalan Alquran-nya melebih yang lain itu juga jadi kebanggaan saya," ujarnya.

"Kerasa sama orang tuanya, misalnya setelah dari sini, perilaku anaknya berubah. Misalnya anak ini beda dengan saudaranya yang lain yang sudah mulai bertato, merokok dan minum minuman keras, ini yang bisa kita lakukan untuk memotong garis kemiskinan, lewat pendidikan," ucapnya.

Ia menyadari bahwa fasilitas yang diberikan kepada anak binaannya masih terbatas. Untuk menutupi operasional sekolah pun, Indra harus memutar otak dengan mengembangkan potensi yang ada di yayasan.

Salah satunya dengan menjual produk kerajinan dari eceng gondok yang dibuat oleh ibu-ibu di sekitar sekolah, kemudian juga pembuatan water treatment dari sampah ekonomis yang dibawa oleh anak-anak.

"Keuntungannya untuk operasional sehari-hari, ibu-ibu kita berdayakan, jadi subsidi silang istilahnya, atau misal juga dari orang tua yang mampu yang menitipkan anaknya sekolah di sini," katanya.

"Orang selalu berpikir sekolah yang bagus itu biayanya mahal, kalau begitu kasihan yang miskin. Kita ubah pola pikir itu dengan coba hadirkan pendidikan yang terjangkau, gratis tapi berkualitas. kita bayarnya pakai sampah," ujarnya.

Semangat Berbagi Ilmu

Jemari Adit begitu lincah menggeser tetikus di atas tumpukan coretan 'coding'. Matanya begitu anteng menatap rangkaian garis di layar komputer. Di sampingnya duduk Noval yang memperhatikan kursor yang menari-nari di atas gambaran vektor.

Di sebelah mereka duduk juga Lukman yang membimbing mereka dalam menggunakan aplikasi CorelDRAW di pojokan saung kayu. Lukman merupakan salah seorang tenaga relawan yang bergabung dengan Sekolah Alam Tunas Inspiratif.

Lewat Lukman inilah, anak-anak di sana belajar mengenai komputer. Baik pemrograman, maupun desain grafis. "Corel, pemrograman web di PHP, Pascal, Turbo Pascal coding seperti itu. Jadi masih basic-nya," katanya.

Awalnya, pria jebolan SMK di Ciamis itu mengaku sempat mengalami hal tidak mengenakan saat ia masih duduk di bangku sekolah. "Saya waktu itu minta kakak kelas untuk mengajari, dia bilang 'mau bayar berapa?'. Memang mungkin bercanda tapi itu suatu penghinaan terhadap ketidakmampuan saya, dari sana saya bertekad untuk bisa dan membagikan ilmu saya, kepada siapa pun dan kapan pun tanpa syarat," ujarnya.

Ia pun sempat melanglang buana mengajar, antara lain di pesantren di Tasikmalaya, kemudian di sekolah komunitas di dalam hutan di Cipatujah Tasikmalaya.

Sampai akhirnya, ia mendengar kabar soal Indra yang mendirikan sekolah alam di pinggiran Sungai Citarum dari layar televisi. "Saya awalnya ingin tahu saja di mana tempatnya, saya jalan kaki dari Padalarang dan sempat nyasar ke Waduk Saguling," kenang Lukman.

"Tidak ada kata rugi dalam membagi ilmu, kita belajar untuk mengajarkan justru kita dikasih lebih banyak oleh Allah. Belajar untuk sendiri kadang bingung, tapi dituntut untuk mengajar jadi lebih mudah," ujar Lukman.





Penulis / Editor : Prastawan / Anang
Sumber              : Pikiranrakyat dan Detikcom